Minggu, 20 November 2011

Bangsa Pintar Dipimpin oleh Pemimpin yang Membangun Bangsanya Bangsa Bodoh Dipimpin oleh Pemimpin yang Membangun Dirinya

Sahabatku, pemimpin itu ibarat nahkoda perahu. Dialah yang menentukan arah kemana berlabuh. Tidak hanya itu, di tangan dia pulalah keselamatan penumpangnya dipertaruhkan. Untuk itu, tidak berlebihan kiranya kalau seorang nahkoda kapal dipersyaratkan harus kompeten dan mempunyai komitmen mengantarkan penumpangnya sampai tujuan dengan selamat.
Tugas pemimpin itu berat, karena kepemimpinan adalah mandat atau amanat. Kepemimpinan bukan untuk gagah-gagahan atau mencari kewibawaan tetapi untuk menjalankan dan melaksanakan cita-cita rakyat yang dipimpinnya. Karena tugasnya yang demikian ini, maka tidak mudah menemukan sosok pemimpin yang benar-benar pemimpin. Kalau sekedar mencari pejabat banyak, tetapi pejabat belum tentu pemimpin.
Terkait dengan soal pemimpin, ada baiknya kalau kita buka kembali sejarah Khalifah Abu Bakar, khalifah pertama umat Islam. Saat dilantik, beliau berpidato di depan rakyatnya.
“…wahai sekalian manusia, kalian telah sepakat memilihku sebagai khalifah untuk memimpinmu. Aku ini bukanlah yang terbaik di antara kalian, maka bila aku berlaku baik dalam melaksakan tugasku, bantulah aku, tetapi bila aku bertindak salah, betulkanlah aku. Berlaku jujur adalah amanah, berlaku bohong adalah khianat. Siapa saja yang lemah di antaramu akan kuat bagiku sampai aku dapat mengembalikan hak-haknya, insya Allah. Siapa saja yang kuat di antaramu akan lemah berhadapan denganku sampai aku kembalikan hak orang lain yang dipegangnya, insya Allah. Taatlah kepadaku selama Aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Apabila aku tidak taat lagi kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak ada kewajibanmu untuk taat kepadaku.”
Pidato Abu Bakar di atas menjelaskan bahwa hakikat pemimpin adalah pelayan bagi orang-orang yang dipimpin (rakyat). Jadi pemimpin itu pamong (pelayan) bukan pangreh (komandan) yang memberi perintah. Karena sebagai pamong maka seoarang pemimpin harus benar-banar memikirkan bangsanya secara keseluruhan, bukan untuk dirinya, koleganya, keluarganya, atau  golongannya semata. Dia harus peduli kepada nasib bangsanya bukan memikirkan dirinya.
Lao-ztu, seoarang filsuf China, mengajarkan bahwa seorang pemimpin itu harus seperti air, mengalir kebawah membasahi tempat-tempat kering. Artinya seorang pemimpin itu mau dan mampu turun memperhatikan nasib rakyatnya, mendengarkan kaluhan dan harapannya, serta mau melayaninya dengan penuh pengabdian hingga rakyatnya merasa aman, nyaman, terlindungi dan teryomi.
Lebih lanjut Lao-Ztu menggambarkan bahwa pemimpin itu laksaman bidan yang dengan kesabaran dan ketulusan yang tinggi mau melayani seoarang ibu yang sedang dalam proses  persalinan melahirkn seorang anak.
Dalam ajaran jawa, tugas pemimpin adalah memayu hayuning bawana. Yaitu mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran bagi rakyat yang dipimpinnya. Mungkin untuk menyampaiakan pandangan dan sikapnya dalam berbagai hal, terutama terhadap masalah-masalah fundamental dan isu-isu besar sehingga rakyat secara keseluruhan mengetahui akan dibawa ke mana.
Standar kearifan pemimpin tercermin dalam pancasetya. Yaitu setya budaya, satya wacana, setya semaya, setya laksana, dan setya mitra. Setiya budaya  artinya adalah seoarang pemimpin harus menaati dan menghormati budaya. Di sini kemampuan seorang mempertahankan nilai-nilai atau kearifan lokal diuji. Para pemimpin Jepang adalah contoh menarik bagaimana mereka mempertahankan budaya dan tradisi ditengah derasnya terpaan arus globalisasi. Nyatanya negara matahari terbit tidak ketinggalan dibandingkan dengan kemajuan negara-negara lain.
Sebaliknya negara itu justru menjadi negra yang diperhitungkan dunia, bahkan termasuk sebagai salah satu anggota World Trade Organization (WHO). Setya wacana artinya seorang pemimpin harus memegang teguh ucapan. Dia mampu menunjukkan kepada masyarakat satunya kata dengan perbuatan. Kata-katanya dapat dipercaya, bukan pagi dele sore tempe. Setya semaya artinya seorang pemimpin harus menepati janji. Apa yang dikatakan itulah yang dilaksanakan.
Setya laksana artinya seoarang pemimpin harus bertanggung jawab terhadap perkataan dan perbuatan. Dia berani berbuat maka dia berani bertanggung jawab, tidak colong playu.
Sedangkan setya mitra artinya seorang pemimpin harus mampu memelihara persahabatan membangun dan mendayagunakan sahabat sebagai mitra kerja produktif yang mampu meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan rakyatnya.
Senada dengan ajaran pancasetya adalah apa yang dikemukakan oleh William George. Menurutnya pemimpin sejati adalah mereka yang; pertama, komitmen terhadap perkataan dan perbuatannya sehingga tidak mudah menyerah dengan keadaan. Kedua, menjunjung tinggi nilai-nilai serta tidak menjadikannya sebagai polesan bibir dan kepentingan politik. Ketiga, membangun hubungan secara baik, berangkat dari lubuk hati yang paling dalam, bukan sebatas kepentingan formalitas dan basa-basi.
Sahabaatku, kita tidak boleh merasa lelah mancari pemimpin sejati, karena jaya atau terpuruknya suatu bangsa tergantung dari bagaimana pemimpinnya. Jika pemimpinnya baik dan berkualitas maka jayalah kita. Sebaliknya jika pemimpinnya buruk dan egois mementingkan kepentinga pribadi dan golongannya, maka terpuruklah kita.
Satu hal yang harus diperhatikan lagi adalah bagaimana kita menghidupkan kembali kepemimpina di kalangan pemuda, sebab dewasa ini sebagian besar mereka mulai terserang primordialisme. Jumlahnya mencapai 60 % lebih. Padahal, merekalah harapan sebagai agent of social change menuju perubahan Indonesia yang lebih baik.
Sahabatku, peran dan tanggung jawab pemimpin itu sangat besar. Karena itu wajib dalam diri seoarag pemimpin mengalir kepribadian guru, sahabat dan orang tua.
Dengan kepribadian guru, seorang pemimpin mampu memberikan arahan dan petunjuk, termasuk mengarahkan dan membimbing opini yang berkembang di tengah masyarakat agar rakyat terhindar dari hal-hal buruk, sebagaimana hal itu dilakukan seoarang guru terhadap anak didiknya.
Sebagai deoarang sahabat, seoarang pemimpin dapat diajak berbagai suka sekaligus tempat berkeluh kesah berbagai persoalan, sebagaimana hal itu dilakukan oleh seseoarang kapada sahabatnya. Sedangkan sebagai orang tua, seoarang pemimpin dapat dimintai pengayoman dan perlindungan sebagaimana anak-anak meminta perlindungan kepada orang tuanya.
Nelson Madela, mantan Presiden Afrika Selatan, adalah salah satu pemimpin yang memiliki kepribadian ini. Kita ingat, saat dilantik sebagai presiden baliau berpidato ditengah-tengah rakyatnya , “saya dikencingi, muka saya diludahi dan kepala saya diinjak-injak oleh penjajah. Adkah di antara kalian yang lebih menderita dari saya? Pleserise your hand if anyone of your suffer more than me!. Tidak ada. Untuk itu mulai hari ini saya maafkan semua kesalahan orang kulit putih. Siapa yang menyakiti mereka berhadapan dengan saya, Nelson Mandela!”
Karena sikap Nelson Mandela yang mampu memberikan pengayoman dan perlindungan tidak sebatas kepada kawan tapi termasuk lawan, maka negaranya tumbuh dan berkembang menjadi negara yang terus maju, kesejahteraan rakratnya terus membaik.
Contoh lain lagi yang dapat disebut lagi sebagai pemimpin qdalah perdana menteri China Zhu Rongji. Saat dilantik thun 1998, dirinya langsung menyatakan komitmennya untuk memberantas korupsi sampai seaakaar-akarnya. Dalam pelantikannya, dia mengatakan, “Sediakan seratus peti mati untuk para koruptor, dan satu untuk saya jika saya melakukan hal yang sama.”
Zhu tidak main-main dengan pernyataannya. Cheng Kejie, pejabat tinggi Partai Komunis China, dihukum mati karena menerima suap US$ 5 juta. Tidak ada tawar menawar. Permohonan banding wakil ketua Kongres Rakyat nasionalitu ditolak pengadilan. Bahkan istrinya, Li Ping,yang membantu suaminya meminta uang suap, dihukum penjara. Wakil Gubernur Provinsi jiangxi, Hu Changging, pun tak luput dari peti mati. Hu terbukti menerima suap berupmobil dan permata senilai Rp 5 miliar. Selama empat bulan pada 2003 lalu, 33.761 polisi dipecat.
Mereka dipecat bukan hanya karena menerima suap, tapi juga berjudi, mabuk-mabukan, membawa senjata di luar tugas, dan kualitas di bawah standar. Karena komitmennya, Cina yang dulu dikenal sebagai Negara miskin dan korup dengan jumlah penduduk yang sangat banyak kini berkembang dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.
Sahabatku, keprihatinan kita terjadi manakala seoarang pemimpin kurang memikirkan dan kurang  melindungi kepentingan publik. Pter Eigen, pendiri transparency International berkesimpulan bahwa penyalahgunaan kekuasaan oleh pemimpin untuk kepentingan pribadi membuat rakyat menderita serta tidak dapat memperolehhak-haknya secara wajar. Mereka tidak bias mendapatkan prasarana umum, seperti pendidikan dan kesehatan, sementara disatu sisi yang lain, situasi membuahkan konflik dan kekerasan. Huru-hara dan anarkisme kerap terjadi. Terperosoknya Negara-negara di berbagai belahan bumi ke dalam kubangan kemiskina dan kebodohan adalah akibat ulah pemimpinnya yang kurang memikirkan kepentingan rakyat.
Miskin dan tertinggalnya Negara seperti Zaire pimpinan Mobuto Sese Seko yang menjarah US$ 5 miliar uang rakrat adalah contoh yang dapat disebut di sini. Bergejolaknyapolitik Filipina berupa percobaan kudeta berulang kali dilakukan oleh rakyat Filipinadalam kurun terakhir ini adalah akibat langsung dari tuduhan kejahatan terhadap Presiden Ferdinand Marcosyang disinyalir telah mencuri uang Negara miliaran dolar. Akibatnya, waktu yang semestimnya digunakan rakyat Filipina untuk bekerja mencari uang memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga tersedot untuk mengurus dan menghindari huru-hara politik yang dapat mengancam jiwanya.
Singkatnya, karena pemimpinnya yang lebih memikirkan kepentingan pribadi, maka perekonomian memburuk, keprcayaan asing menurun, dan termasuk para investor berancang-ancang menarik modalnya.
Melihat peranan pemimpin itu sangat penting, maka kita harus hati-hati dan cermat memilihnya, tidak seperi memilih baju yang jika kurang pas atau kurang cocok karena kebesaran atau kekecilan dapat diganti seketika itu. Sekali salah dalam memilih seoarang pemimpin maka sesal seumur hidup. Kalau salah membajak sawah hanya rusak padi semusim, tapi kalau salah memilih pemimpin efek buruknya sampai tujuh keturunan.
Jadi jelas, bahwa pemimpin yang mementingkan ambisi dan kepentingan pribadi hanya membuat rakyat yang dipimpinnya hidup dalam kemiskinan, kebodohan, dan kesengsaraan. Sebaliknya, pemimpin yang berfikir dan mencurahkan segala tenaganya untuk kemajuan rakyat yang dipimpinnya maka dia membawa kemajuan dan kemakmuran.
Kalau demikian faktanya, bukankah berarti kita yang bodoh jika memilih seoarang pemimpin yang egois, pemimpin yang berfikir untuk kepentingan pribadi, keluarga dan golongannya. Hanya bangsa pintar saja yang dipimpin oleh pemimpin yang mebangun bangsanya, dan hanya bangsa yang bodoh yang dipimpin oleh pemimpin yang memikirkan dirinya sendiri.
Karena itu, pandai-pandailah memilih pemimpin. Kita kelak akan dimintai pertanggungjawabannya atas pilihan kita, karena masing-masing kita sejatinya adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya atas kepemimpinan yang kita laksanakan. (Menjadi Bangsa Pintar, HP)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar